Dermaga Pelabuhan Ratu, Sukabumi

Belum jua terdengar raungan ayam berkokok, saya sudah diangkat dan dihempaskan ke dalam bagasi mobil penuh muatan. Tubuh six-pack saya mendadak full-pack akibat overload dengan peralatan tempur bunda sewaktu traveling. Bersama dengan sekarung beras, sekardus mie instan, segalon air mineral, sebuah kasur lipat, ban bebek dan ember mainan pasir, kami mengalami siksaan selama 7 jam perjalanan dari Jakarta hingga Pelabuhan Ratu.

Ada rute singkat yang dapat memangkas waktu 1 jam, yaitu melalui Cikidang. Jalur alternatif tersebut terkenal sejak para goweser and touringer rajin menggunakan trayek ini sebagai arena bermain. Lebar jalannya relatif kecil dan bukanlah jalan umum yang banyak dilalui oleh truk dan kaumnya. Hamparan pohon hijau di kontur pegunungan amat menyejukkan dan memikat mata. Pemintas juga disuguhkan pemandangan perkebunan teh, barisan kelapa sawit, dan alam hutan lindung. Terlihat beberapa kendaraan yang sengaja berhenti menikmati pemandangan bahkan menggelar tikar untuk makan siang.

Tetapi jangan coba-coba melintasi jalur ini bila belum mahir menyetir apalagi belum memiliki SIM! Kelak-kelok tajam (+/- 75 derajat) jalanan berbatasan langsung dengan jurang bagai sedang mengikuti test uji nyali. Sebaiknya hindari rute ini di malam hari karena butuh kecermatan, kewaspadaan dan konsentrasi tingkat tinggi. Untunglah ayah tak bergeming dan tetap fokus di jalurnya saat ketiga anaknya menyanyikan “Hymne Minion Banana Potato” dengan not tinggi.

Pelabuhan Ratu adalah ibukota dari kabupaten Sukabumi di Jawa Barat. Kini sudah sangat ramai dengan banyaknya pemukiman, termasuk hotel dan resort yang mendiami pinggir pantai. Namun di beberapa tempat masih terlihat pematang sawah yang berbatasan langsung dengan pantai. Pemandangan ini sungguh unik sehingga membuat bunda berpikir tajam walau tak setajam silet: “Kira-kira rasa berasnya seperti apa ya? Apakah berhawa ‘fishy’ rice (baca: bau amis)? “

Hotel yang terkenal di wilayah ini adalah Inna Samudra Beach Hotel. Terkenal karena sejarah dan juga mistisnya. Hotel yang dibangun pada tahun 60-an atas perintah Presiden Soekarno lebih sering dikaitkan dengan legenda Nyi Roro Kidul. Satu kamar di lantai 3 didekasikan khusus untuk sang Ratu Laut Selatan. Nomor kamar 308 kini telah dihilangkan dan diganti dengan tulisan “Private Room”. Sayang sekali kondisi satu-satunya hotel berbintang 4 di Pelabuhan Ratu kini amatlah usang dan minim perawatan. Bunda berniat datang untuk menginap namun hanya berakhir di restoran.

Penginapan lain yang cukup menarik adalah Ocean Queen Resort, Desa Resort & Spa, Kuda Laut Resort, dan Karang Aji Beach Villa. Awalnya ingin bermalam di Karang Aji Resort karena bunda mudah terbius oleh tampilan gambar di dunia maya yang tampak keren dan menarik.

Namun setelah melakukan inspeksi ke lokasi, bunda disadarkan oleh kenyataan yang tak seindah mimpi eh iklan. Judulnya Beach Villa namun sesungguhnya berada jauh di puncak bukit. Tema resort ini pun teramat absurd. Kamarnya kecil dan terlalu banyak anak tangga sehingga bunda menyarankankan tidak cocok untuk keluarga dengan anak kecil. Secara keseluruhan resort ini terlihat unik, rada rikiplik, kesan tidak higienik, tapi mungkin menarik bagi bule-bule nyentrik.

Selain wisata pantai, banyak wisatawan yang datang ke Pelabuhan Ratu untuk surfing dan memancing. Kondisi dan ketinggian gelombang air laut cukup stabil untuk surfing terutama pada bulan Mei hingga Oktober. Sementara diatas batu-batu karang yang menjorok ke laut, wisatawan duduk memancing berharap dapat membawa pulang hasil tangkapan ikan laut khususnya putri duyung berwajah Luna Maya. Harap diingat, Pelabuhan Ratu adalah pantai samudra sehingga tidak disarankan memancing di pantai bagi seorang amatir.

Bagi yang tidak sabar menanti kail pancing dimakan ikan tapi ingin membawa pulang ikan sebagai oleh-oleh, dapat menyambangi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang menjual berbagai macam ikan laut seperti tuna, salmon, kerapu, kakap, bawal, cumi-cumi, udang dan lobster dalam kondisi segar. Harga yang ditawarkan tergolong murah dibanding di pasar modern ibukota. Bila ingin segera menikmati warga laut kunjungilah Pusat Ikan Bakar Resto. Disini kita dapat memesan fresh seafood yang dibakar di atas kulit kelapa.

Menjelang sore batalyon bunda berjalan-jalan di Dermaga TPI yang sudah sepi dari aktifitas. Hanya ada beberapa muda-mudi bercengkrama dibalik bayangan motornya, yang kemudian menyingkir karena kericuhan pasukan bunda.

Riak air laut -cetar membahana- menghantam pemecah ombak di bibir dermaga, menjadi moment yang mengasyikan sekaligus mengerikan. Panas dan deru ombak tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk berloncat-loncat ria di atas dermaga demi sebuah sesi foto yang akan mengabadikan kenangan indah di Pelabuhan Ratu.

Saran KoperBunda:

  • Pehitungkan lama perjalanan dari Jakarta ke Pelabuhan Ratu yang memakan waktu sekitar 6 – 7 jam. Apalagi bila anda seperti keluarga bunda yang rajin berhenti di setiap Rest area. Entah karena bunda latah ingin ke toilet atau sekedar membeli cemilan untuk anaknya. Sehingga tidak disarankan berkendara pergi pulang (PP) bila berwisata di Pelabuhan Ratu dan sekitarnya.
  • Jalur alternatif Cikidang bukan untuk yang bernyali ciut. Siapkan antimo atau plastik kresek di dalam mobil, belajar dari kejadian bunda yg tak hanya bernyali ciut, tapi juga membuat perutnya ciut (tergantung berapa banyak makanan yang dikeluarkan dari lambung). Sebaiknya jangan mengisi perut hingga mentok bila hendak melalui jalur ini.
  • Tidak semua pantai bisa dipakai untuk berenang karena ombak yang datang tak terduga bisa menyeret anda ke istana Ratu Laut Selatan.
  • Menurut mitos, wisatawan tidak disarankan memakai baju warna hijau karena warna tersebut adalah warna kesukaan Nyai. Namun para ahli mengulas alasan logisnya, bahwa warna hijau mempersulit tim SAR untuk menyelamatkan korban tenggelam karena terkamuflase dengan warna air laut. Sebab air laut yang biru akan berubah warna menjadi hijau jika kedalamannya bertambah. Lebih baik menggunakan pakaian berwarna terang, misalnya warna oranye atau neon lime. Lebih aman lagi bila memakai rompi polisi full reflektor!
  • Disarankan membawa cooler bila berminat memborong ikan di TPI. Agar hawa ‘fishy’ tidak menyertai anda selama perjalanan kembali pulang.

This slideshow requires JavaScript.

 

5,263 total views, 4 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *