Gunung Papandayan, Garut

Alat keselamatan (survival) bunda di Gunung Papandayan hanya bergantung pada sepasang sandal jepit! 

Sebelum berkisah tentang ‘teks anekdot’ tersebut diatas, alangkah baiknya mengulas bagaimana keluarga bunda bisa sampai ‘terdampar’ di Gunung Papandayan.

Seringnya, warga bunda melaksanakan trip secara spontan a.k.a go-show tanpa persiapan matang. Begitu jua ketika melaksanakan Tour de Garuttetiba bunda mendapat ilham untuk bertandang ke Gunung Papandayan. Dikiranya hanya #plesircantik (turun mobil langsung bisa selfie berlatar gunung dengan bedak yang belum luntur, red.) seperti pada Gunung Tangkuban Perahu. Bunda pun tak menyangka, ayah mendadak punya ide trekking di Papandayan! Untunglah pasukan mininya sudah memakai sepatu kets dari penginapan. Akan tetapi si bunda tiada berbekal apapun. Hanya sepasang sandal jepit serta kacamata cengdem yang sedari subuh sudah nyangkut di batang hidungnya..

Menurut info dari abah wikipedia, Gunung Papandayan adalah gunung berapi aktif yang terletak di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung dengan puncak ketinggian 2665 mdpl ini masuk dalam golongan Gunung Api Strato, yaitu gunung yang terbentuk akibat letusan/erupsi secara terus menerus yang saling bergantian. Sehingga membentuk topografi berbukit dan bergunung, curam serta tebing terjal.

Kebanyakan pengunjung datang ke Gunung Papandayan untuk melaksanakan aktifitas camping, tapi ada juga yang melakukan rekreasi perjalanan panjang dengan berjalan kaki atau disebut trekkingTrekking di Gunung Papandayan artinya berjalan di dalam kawasan Kawah Papandayan. Literallyberjalan di dalam kawah! 😮 Ya, Kawah Papandayan merupakan komplek gunung berapi yang masih aktif seluas 10 Ha dimana terdapat rongga atau lubang magma besar maupun kecil, dan dari lubang-lubang tersebut keluar asap/uap yang mengandung belerang, bahkan timbul berbagai macam suara unik hingga berisik seperti suara mesin pesawat. Beberapa kawah yang terkenal yakni Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, Kawah Manuk, Kawah Panganten, dan Kawah Balagadama, masing-masing memiliki keunikan sesuai dengan namanya. Pengunjung pun dapat melihat kawah-kawah tersebut secara dekat.

Ayah meng-hire seorang experienced guide untuk memandu kelananya bereksplorasi di wilayah pegunungan ini. Tidak terdapat jalur khusus trekking atau pathways, sehingga amat berbahaya jika pengunjung berkeliaran tanpa panduan apalagi baru pertama kali kesini. Tiga jam berjalan kaki seraya mendaki di pegunungan tandus yang dipenuhi oleh batu vulkanik bekas letusan Gunung Papandayan Purba. Meskipun suhu pegunungan tercatat 10 °C, namun dengan matahari terik menyengat, serta hawa panas yang menyembur dari setiap kawah, maka regu bunda cukup nyaman mengenakan kaos serta celana pendek sahza.

Warning: Jangan memakai baju motif bunga dengan warna cerah merekah, karena sepanjang pendakian, si bunda dirubung tawon! #dikirakembang

Memasuki medan terbuka, penampakan wilayah pegunungan yang minim vegetasi ini membuat laskar bunda merasa sedang berada di planet lain. Sembari membawa ranting pohon yang berfungsi sebagai tongkat untuk bantuan (istilah kerennya trekking pole), si bolang menyusuri tepian lereng serta aliran sungai yang terbentuk alami dari aliran lava. Sang akang guide yang baik juga membantu mengangkat dan menarik tangan mereka jika harus memanjat tebing terjal. Beliau juga menunjuk bebatuan mana yang aman dipijak, karena meskipun jalur landai, di beberapa tempat terdapat kontur yang masih labil, bahkan longsor!

Serbuan tawon mendadak menghilang begitu bunda mendekati kawah. Tentunya ‘wangi’ belerang yang menghalau pasukan beast eh bee ini. Note: Baru kali ini bunda bahagia mencium bau sulfur yang menyengat! :mrgreen: Bongkahan bebatuan berwarna putih kekuningan yang menutupi seluruh permukaan tanah merupakan ‘vomit’ perut bumi yang keluar dari Gunung Papandayan ketika ia meletus dahsyat. Laskar bunda pun dapat menyaksikan langsung proses ‘kristalisasi’ belerang yang telah terjadi selama menahun.

Asap kawah yang kepulannya dapat dilihat dari bulan (lebay.com) seolah mengiringi langkah pasukan bunda. Pada suatu waktu kepulan asap pekat ini membumbung begitu tinggi sehingga langit pun tak terlihat. Bunda pun berkata, “Wow, kita masuk ke dalam Fog Dome!” Fenomena ini hanya terjadi beberapa saat sebab hembusan angin menyibak ‘kubah kabut’ yang tlah membuat bunda terpana ternyana nyaris tak percaya..

Sang pemandu lantas memandu barisan bunda menuju lokasi populer seperti Kawah Mas dan Hutan Mati. Wilayah Hutan Mati merupakan destinasi wajib jika pengunjung melintasi Papandayan. Berwujud kerumunan pepohonan gundul yang tampak terbakar habis. Uniknya akarnya tetap bertahan dan seiring waktu akan hidup kembali. Suasana pada lokasi hutan yang meranggas apalagi jika diselimuti kabut, sungguh menimbulkan kesan kelam dan misterius! Namun herannya tempat ini menjadi spot idaman untuk #popotoancantik dan sering digunakan pemotretan foto pre-wedding. Oleh karenanya bunda merasa senang mengenakan baju berwarna kontras dengan background (lupa dengan serbuan ngengat!).

Akan tetapi, langit di atas Papandayan seketika berubah gelap. Awan mendung yang membawa butiran air siap tumpah mengguyur armada bunda yang masih berada jauh di tengah Hutan Mati. Rupanya cuaca tak dapat diprediksi.

Dan turunlah hujan dengan lebatnya seolah tak terbendung. Tidak ada gerimis maupun rintik-rintik. Bunda’s Crew ditempa hujan deras ketika trekking di Papandayan! Bagai hujan tak cukup menyulitkan, petir dan kilat datang menyambar. Suaranya cetar-mencetar disamping telinga, menyadarkan bunda bahwa ia sedang berada di ketinggian 2200mdpl, dan di ruang terbuka tak terlindungi oleh satu pun pepohonan!

Bunda sempat berteriak, “Payung mana payung?” –berharap ada ojek payung di Papandayan 😮

Tak ada pilihan lain selain trekking kembali pulang. Situasi menjadi emergensi sebab tujuan utama saat ini adalah selamat dari medan juang! Status #mendadakberbahaya memaksa prajurit bunda berjalan cepat dalam lebatnya hujan yang juga menjadikan visibility terbatas. Bebatuan vulkanik tempat laskar berpijak menjadi super licin, cadas nan tajam setajam silet. Sungai yang sebelumnya sebagai jalur trekking, kini menjadi deras dipenuhi luapan air. Tubuh basah kuyup tak menimbulkan rasa kedinginan sebab adrenaline-rush turut ngebut berpacu seiring suara halilintar memecut langkah kaki bunda. Sudah tak tau lagi batu mana yang aman dipijak hingga seringkali ia terpeleset. Dalam hatinya pun tak henti berdoa, “Tuhan tolonglah, jangan sampai tali sandalku putus!”.

Tanpa alas kaki, tak mungkin survived melintasi tough rough environment Papandayan. Nasib(survival)nya bunda hanya bergantung pada sepasang tali sandal jepit Reebok. Kenapa penting menyebut merk? Karena kwalitasnya sudah terbukti dapat diandalkan! Ya, sandal jepit super-seeetrong tersebut sungguh amat berjasa bagi sang bunda (meski tidak sepenuhnya melindungi kakinya). #bukaniklan.

Oleh-oleh dari trip Papandayan adalah hiasan 20 buah tensoplast di kaki bunda! 😆

Syukurlah laskar mini bunda merupakan pejuang tangguh dan handal. Mereka tidak sekalipun mengeluh walaupun acara wisata menjadi tidak ideal dan jauh dari rasa nyaman. Jika dirangkum kisah petualangan sang kelana hari ini; dimana bunda diserbu tawon, trekking di dalam kawah!, melangkah diiringi kepulan kabut/asap, diselimuti fog dome, menyaksikan kristalisasi belerang, sesi foto di Hutan Mati, hujan deras seketika menghantam, petir kilat mencetar, hidup bunda bergantung pada seutas tali sandal jepit.. maka pantas jika diberi judul: Papandayan EPIC! Adventure 😎 

Lalu kemanakah perginya bebinaga selama ayah bunda dan kakak-kakaknya berjuang untuk dapat selamat kembali pulang? Rupanya dia asyik nongkrong di warung sambil makan bala-bala! 😀

Petuah KoperBunda:

  • Gunung Papandayan berada cukup dekat dan mudah dijangkau (sekitar 1 jam) dari Kota Garut.
  • Kawasan yang sekarang dinamakan Taman Wisata Alam Papandayan sudah mengalami banyak pembenahan fasilitas. Papandayan yang dikelola oleh PT Asri Indah Lestari sejak bulan Juni 2017, kini memiliki area parkir luas, Taman Edelweiss, masjid, kolam renang air panas yang dialirkan langsung dari Kawah Papandayan, Menara Pandang (Watch Tower), tak ketinggalan Selfie Area. Info serta harga tiket dapat dilihat pada Digarut.com serta Papandayan.info
  • Pentingnya menyewa guide karena tidak ada jalur trekking! Pengunjung dapat tersesat dalam wilayah yang tidak ada petunjuk arah. Biaya jasa akang guide adalah Rp. 350k dan berilah tip yang memadai.
  • Area Hutan Mati sering kali berselimut kabut. Pemandangan tidak terlihat jelas dan rawan disorientasi. Bila hal ini terjadi saat anda melintas, tetaplah bersama regu dan tunggu hingga kabut menghilang.
  • Bau belerang terkadang dapat menyengat di jalur pernafasan. Jika anda tidak tahan dengan ‘wangi’nya, bawalah masker atau saputangan. Dan bila anda melihat pose bunda yang selalu menyengir dalam setiap foto, sesungguhnya bunda sedang menahan nafas! :mrgreen: 
  • Sebaiknya jangan datang di musim hujan, atau anda akan mengalami ragam peristiwa ‘pilu’ seperti tercantum diatas 😥
  • Meskipun judulnya naik di gunung, anda tetap dapat beraktifitas #popotancantik di tiap penjuru, terlebih di spot Hutan Mati.
  • Ketika keluarga batihnya berjalan berbaris mendaki tepi lereng Papadayan, mengingatkan bunda pada sebuah scene film favoritnya The Sound of Music, dimana pada akhir kisah terdapat adegan keluarga Von Trapp climbing over the alps into Switzerland. Dan ternyata oh ternyata, Gunung Papandayan turut dijuluki Swiss Van Java! #emejing
  • Jika anda memiliki bocah dengan jiwa petualang, alangkah serunya diajak serta mendaki gunung. Trekking di Papandayan masih cukup ‘memadai’ untuk anak kecil (menurut sang bunda, yang barudaknya sudah lulus mendaki Merapi, Bromo, Krakatau dan Ijen). Jadi petuah ini relative dan jangan menjadi acuan 😉
  • Bawalah bekal air mineral. 3 jam trekking di atas bebatuan vulkanik ternyata cukup melelahkan.
  • Namun terbayar dengan pesona alami Gunung Papandayan yang memiliki tampilan lain dari yang lain. Mountain like no other.
  • Dengan segala peristiwa ‘huru-hara’ yang terjadi di Gunung Papandayan hari ini.. What an Epic adventure, troops! 

This slideshow requires JavaScript.

1,374 total views, 2 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *