Kepulauan Krakatau, Selat Sunda

Saat bunda duduk di bangku sekolah dasar, serta wajib menghafalkan nama pegunungan dan letak geografisnya di buku Atlas, Gunung Krakatau (wong londo lebih mengenalnya dengan sebutan Krakatoa) adalah yang paling mudah diingatnya karena unsur unik linguistik yang terkesan sakti, gagah dan ‘hot’ ketika namanya diucapkan. Selain itu, berita tentang dahsyatnya letusan gunung berapi ini, membuat bunda takjub sekaligus ‘ngeri’ atas kemampuan absolute-nya.

Walau demikian, tak pernah terbersit di benaknya untuk melakukan “wisata gunung berapi”, apalagi ke Krakatau yang hingga saat ini masih aktif dan terus mengeluarkan asap vulkanik. Bunda baru mulai ‘ngidam’ sejak salah seorang rekan londo-nya mengunjungi wilayah perairan Krakatau dengan menggunakan kapal pesiar ala Phinisi. Dia baru saja mengetahui, bahwa Krakatau dapat dikunjungi, dengan resiko ditanggung sendiri (apabila datang disaat gunung Krakatau ‘batuk’, tidak mempan dengan OBH!). Keinginan itu terus memuncak, apalagi setelah ayah lebih dulu memiliki kesempatan menjelajahi Krakatau, tanpa disertai dirinya.

Berlibur ke Aston Anyer ketika long weekend di bulan ini, merupakan acara liburan keluarga tanpa adanya program traveling ke Krakatau dalam agenda. Tapi rupanya, ayah memiliki rencana untuk mengutus bunda dan punggawanya berlayar menuju gunung vulkanik di tengah laut (maksud & tujuan: agar ayah bisa menjalani hari dengan tenang tanpa desing bising bunda). Ayah jualah yang pergi mencari informasi mulai dari Pelabuhan Anyer hingga Carita, mengenai tempat penyewaan speed boat dengan harga yang (paling) terjangkau. Ia bahkan rela baby-sitting baby naga selama bunda berlayar pergi.

Benar, Ekspedisi ke Krakatau tak hanya membutuhkan niat, tapi tekad dan nekat yang kuat (baca: nekat bayar million rupiah, cash!). Biaya menyewa sebuah speed boat trayek Carita – Krakatau (PP) tidaklah murah. Ada yang menawarkan harga Rp. 2,5 juta menggunakan perahu kayu, tetapi menghabiskan waktu hingga 4 jam! Ada juga yang mematok harga (terlampau) tinggi, sekitar Rp. 8 juta – Rp. 10 juta memakai yacht. Ayah sempat ragu dengan range harga yang disodorkan, hingga akhirnya beliau menemukan Pak Ujang.

Pak Ujang menawarkan harga yang cukup ‘normal’ berkisar antara Rp. 3 juta – Rp. 4 juta, menggunakan fiber speed boat kapasitas 6 orang, dan hanya menempuh waktu 1,5 jam untuk tiba di Kepulauan Krakatau. Otak ayah langsung berkalkulasi bak processor matrix. Anggaplah jarak tempuh sekitar 40 km, biaya fuel sebanyak 400 liter dikali harga premium saat ini Rp. 7,3k/liter = (silahkan hitung sendiri). Sisanya adalah keuntungan yang dibagi antara pemilik speed boat, kapten, dan awak kapal. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa jumlah biaya tersebut cukup reasonable.

Tercapailah kesepakatan harga yakni Rp. 3,5 juta (without meal). Ya, berhubung trip to Krakatau menghabiskan waktu seharian, anda dapat sekalian memesan makanan untuk acara makan siang. Memudahkan anda yang tak mau repot dengan urusan makanan, tentunya, dengan tambahan biaya sehingga total charge menjadi Rp. 4 juta. Bunda yang mendengar info bahwa menu konsumsinya berupa nasi bungkus (dikiranya lobster atau caviar), langsung menampik tawaran Rp. 500k lebih mahal, karena sudah ada Chef Maknyak (sebagai salah satu anggota D’Warriors) yang dapat mengeluarkan makanan ‘maknyus’ dari keranjang beseknya.

Meeting point telah ditentukan pada pukul 08.00 WIB di daerah Carita, tepatnya di sebelah Masjid Carita yang telah ada sejak tahun 1889 dan menjadi bagian sejarah Banten –namun keberadaannya tak pernah terpantau oleh bunda, secara posisinya lebih rendah dari jalanan dan terletak di bawah jembatan. Disana para awak kapal sudah menunggu kemudian membawa gerombolan ini berjalan kaki menelusuri Kampung Pagedongan menuju pier/pelabuhan.

Sebagian besar warga berprofesi sebagai nelayan. Dan dengan banyaknya turis asing yang menyewa kapal/speed boat untuk mengunjungi Krakatau hingga Ujung Kulon, memperbaharui rejeki para nelayan yang juga memperbaharui rumahnya sehingga banyak terdapat bangunan baru. Keramik berwarna primer dan bercorak meriah memenuhi dinding teras hingga kebatas ceiling, rupanya sedang populer disini.

Setibanya di pantai, rombongan yang beranggotakan aki-aki, nini, paman, bibi, umi, neng serta mang ujang −dengan bangga menamakan regunya D’Warriors (dinamakan demikian due to komposisi group yang ‘un-usual’ sekaligus ‘exceptional’ sebagai peserta pendaki gunung)− berjalan menghampiri sebuah speed boat bernama KM. SUBUR. Mereka disambut oleh sang kapten beserta crew-nya yang berjumlah 4 orang (agak banyak untuk kapal sekecil ini). Boleh jadi jumlah crew memang sengaja disiapkan lebih banyak dari biasanya, guna menggiring pasukan bunda yang ‘rempong’.

Kapal ini segera berangkat dan melesat cepat mengarungi selat. Beruntung sekali karena cuaca hari ini amat cerah −ditengah perubahan iklim yang semakin tak menentu belakangan ini. Bonusnya lagi, anggota D’Warriors sesekali dapat menyaksikan lumba-lumba yang menampakkan diri, berloncat-ria diatas permukaan laut!

Selama perjalanan di perairan yang melintasi lempeng tektonik Eurasia dan Indo-Australia ini, laskar cilik bunda berteriak girang dan bersorak-sorai gembira −walau ombak menerjang dan angin bertiup kencang− sementara bunda sibuk merapikan rambutnya yang tak kunjung rapi.

Memasuki wilayah komplek ‘kerajaan’ Krakatau yang sudah ada sejak jaman purba, ingatan bunda terngiang atas kisah dahsyat yang membahana dan menggentarkan hatinya. Sebuah catatan mengenai letusan Gunung Krakatau Purba terpatri pada teks Jawa Kuno, menyatakan bahwa ketika gunung meletus hebat, suara guntur menggelegar disertai dengan goncangan bumi, petir dan kilat, badai angin dan hujan. Kegelapan total menggelapkan seluruh dunia. Lalu datanglah banjir besar yang memisahkan Pulau Jawa dan menciptakan Pulau Sumatera.

Erupsi Gunung Krakatau selanjutnya yang terjadi pada tanggal 27 Agustus 1883, tercatat dalam The Guiness Book of Records sebagai ledakan paling hebat yang terekam dalam sejarah. Bencana alam akibat letusan kolosal yang dimuntahkan Gunung Krakatau amat mengerikan. Timbulnya awan panas, gempa bumi, dan tsunami setinggi 40 m memakan korban lebih dari 36 ribu jiwa (bahkan info dari beberapa sumber mencapai 120 ribu jiwa).

Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30ribu kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York, serta getarannya terasa sampai Eropa. Perubahan iklim global terjadi ketika Krakatau menyalak galak. Dunia sempat gelap akibat debu vulkanis menutupi atmosfer dan matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Letusan Krakatau juga menciptakan fenomena angkasa, semburan abu vulkaniknya membuat Bulan berwarna biru.

Akibat ledakan gigantic yang melanda di Selat Sunda, 3/4 tubuh Induk Krakatau menghasilkan kaldera atau kawah giant. Sisi-sisi atau tepi kawah yang kini tersisa telah membentuk gugusan pulau vulkanik yang sekarang dikenal sebagai Kepulauan Krakatau, yaitu meliputi Rakata atau Krakatau Besar, Panjang atau Krakatau Kecil, Sertung, dan Anak Krakatau.

Ditengah rangkaian pulau vulkanik ini, kapal cepat yang ditumpangi bunda berlayar searah dengan sebuah perahu nelayan yang sedang menjaring ikan. Bagai di angkot bunda langsung berteriak untuk segera menepi (dimana tepian lautnya ya?). Sang kapten yang masih bergaya rock ‘n roll walau tiada gigi tersisa, menghentikan kapalnya begitu mendengar teriakan bunda yang lebih nyaring daripada suara mesin tempel Yamaha (double engine 40PK).

Perlahan perahu nelayan mendekat, dan dari hasil nego sesama Deni Manusia Ikan, didapatkanlah beberapa ekor ikan yang baru saja ditangkap seharga Rp. 50k, untuk kemudian dibakar sebagai menu makan siang di Pulau Anak Krakatau. Another bonus, karena perihal bakar-bakaran ikan tidak termasuk dalam wacana, apalagi transaksi jual belinya terjadi di Selat Sunda!

#Hari ini keluarga bunda berada disini, mengapung di atas kawah raksasa gunung berapi, terombang-ambing di tengah lautan dan jagat alam raya ini, meresapi rasa atas bencana dahsyat yang pernah terjadi: bahwa diri kita begitu kecil dan nyaris tak berarti, dan tak satupun yang dapat menghalangi, bila Yang Maha Kuasa telah menghendaki.

Saran KoperBunda: Jika ingin memperbaiki nilai mata pelajaran sejarah anda, silahkan kembali belajar tentang evolusi Gunung Krakatau yang dapat dibaca disini. Disertai tambahan wawasan mengenai berita letusan dahsyatnya yang terjadi pada tahun 1883, dapat anda lihat disini.

Baca juga kicau KoperBunda lainnya kala menginap di Aston Anyer Beach Hotel dan ketika mendaki Gunung Anak Krakatau.

This slideshow requires JavaScript.

 

2,175 total views, 2 views today