Lintas Madura: Desa Pegaraman Sampang, Karapan Sapi, Api Abadi Pamekasan

Apa yang bunda pikirkan ketika melintasi Jembatan Suramadu, berkendara menyeberangi selat menuju Pulau Madura? What’s her expectation? Terbayanglah wajah pulau dengan topografi yang relatif datar, beriklim panas, penduduk berkarakter keras, pedagang besi bekas, serta tradisi carok yang menambah daftar kengerian bunda..

Melalui trip Safari Lebaran yang dilaksanakan secara spontan, dengan niatan awal hanya untuk menyeberangi the iconic Suramadu, warga bunda intrigued untuk terus melanjutkan perjalanan sejauh 4 jam hingga Pamekasan. Sebab didalam Ekspedisi Lintas Madura ini, sama sekali bunda tiada menyangka, bahwa ternyata Madura menyimpan segudang pesona..

Oleh karenanya hanya satu Petuah KoperBunda dalam perjalanan Lintas Madura: #expect-the-unexpected!


DESA PEGARAMAN Kab. Sampang

Madura terkenal dengan sebutan “Salty Island” sebagai kota penghasil garam. Tanpa rencana, pasukan bunda melintas di Kab. Sampang dimana terdapat PT Garam (Persero) yang telah beroperasi dari jaman kolonial Belanda. Siapa sangka tambak garam dapat menjadi pemandangan indah, dan laskar mini turut belajar langsung tentang proses terjadinya garam di Desa Pegaraman. Bunda pun sempat terkesiap, begitu menyaksikan bangunan the legend gudang garam yang tercetak pada bungkus rokok kretek, is real di Salty Island 😉

This slideshow requires JavaScript.

Sekilas Info. Berbekal rasa penasaran, ayah lantas mencari informasi mengenai asal muasal logo Gudang Garam, yang selama ini tercetak pada bungkus rokok di salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Tersebutlah seorang Tjoa Ing Hwie (Surya Wonowidjojo) yang lahir di Fuqing, provinsi Fujian China, yang kemudian dibawa oleh orangtuanya migrasi ke Sampang Madura di usia 4 tahun. Ketika ayahnya tiada, beliau hijrah ke Kediri Jawa Timur lalu bekerja di pabrik milik pamannya (kretek Cap 93, rokok kretek paling terkenal dijamannya).

Pada tahun 1956, Wonowidjojo meninggalkan Cap 93 untuk mendirikan pabrik rokok sendiri yang memproduksi rokok klobot dengan merk Inghwie. Dua tahun kemudian, tepatnya tanggal 26 Juni 1958, beliau mengubah nama perusahaannya menjadi Pabrik Rokok Tjap Goedang Garam.

Nama serta logo Gudang Garam sendiri diambil dari mimpi Wonowidjojo, dimana dalam mimpinya beliau melihat gudang garam diseberang pabrik Cap 93 bersinar amat terang. Mengartikan mimpinya tersebut salah seorang karyawan memberi ide untuk menempelkan foto gudang garam disetiap bungkus rokok kretek. Maka mulai saat itu gudang garam telah menjadi model cover hingga masa millenium sekarang.

Bunda kini mengerti kenapa gambar ‘gudang garam’ yang menjadi simbol legendaris sebuah perusahaan rokok. Dan apakah logo tersebut ada korelasinya dengan bangunan gudang garam yang ditemui laskar bunda ketika melintas di Sampang? (mengingat masa kecilnya Wonowidjojo pernah bermukim di kabupaten ini). Sebait pertanyaan cupu pun terlintas di benak bunda, “Apakah mimpinya tersebut karena rindu dengan masa kecilnya bermain di tambak garam?”

Nah, untuk arti dan makna gudang garam yang sesungguhnya silahkan anda tanyakan sendiri kepada Om Wonowidjojo, ya! 😉


KARAPAN SAPI

Katanya, “Tiada Madura tanpa karapan sapi dan tiada karapan sapi tanpa Madura”.

Lagi, sebuah kebetulan dalam travel unplanned ala KoperBunda. Dan lagi-lagi, secara spontan bunda meminta ayah untuk ‘melipir’, begitu ia melihat sapi-sapi diantar dalam truk ke dalam sebuah arena. Memang di dalam arena atau stadion balapan ini sudah diramaikan dengan sapi-sapi super (beserta para supporternya) yang didatangkan dari berbagai wilayah di Madura.

Klan bunda lantas menyaksikan secara live tradisi khas masyarakat Madura yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun. Sedari mula sapi-sapi tersebut diturunkan dari kendaraan, lalu pasangan sapi disiapkan dengan acara ritualnya, untuk kemudian berpacu bersama joki pilihan pada lintasan sepanjang 100m hanya dalam waktu tempuh 10-15 detik! Waw keren! Kalau di negara barat mempunyai SuperMan, nagari Madura memilki SuperCow.. the real SuperCow! 😀

Untuk menyaksikan karapan sapi ini pengunjung tidak perlu membayar, cukup memberi sejumlah tip pada penjaga di gerbang pintu masuk stadion. Jadi ya, belum afdol datang ke Madura kalau belum melihat Karapan Sapi 😉😃

This slideshow requires JavaScript.


API ABADI PAMEKASAN

Total 8 jam Surabaya – Pamekasan (PP) untuk menyaksikan kobaran Api Abadi/Api Tak Kunjung Padam/Eternal Flame di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Madura. Api Abadi Pamekasan yang berasal dari natural gas ini pernah diambil dan digunakan untuk upacara pembukaan PON XIV tahun 1996 di Jakarta.

Tampak sebuah wilayah yang telah dikelilingi oleh pagar pembatas, dan nyala api abadi hanya dapat dijumpai di dalam area pagar tersebut. Jika menggali tanah di dalam area lingkaran pagar maka semakin besar semburan nyala api yang dihasilkan. Anehnya, jika menggali tanah di luar area yang dipagari tidak mendapatkan nyala api.

“Api disini sudah menyala sejak dahulu kala.. jauh sebelum Indonesia merdeka. Dulunya ini hutan!”, kata ibu penjual jagung yang masih terbata-bata bahasa Indonesianya. Ebhu/Ibu ini sudah berjualan jagung sejak api abadi resmi dijadikan kawasan wisata. Dengan hanya membayar Rp. 3000/jagung, acara bakar jagung di atas api tak kunjung padam ini menjadi atraksi utama pengunjung yang datang. Termasuk si Eneng dan Denjaka yang baru kali ini memiliki pengalaman membakar jagung, langsung diatas api abadi! 😀

Nyala api dapat disaksikan pada siang hari namun akan lebih indah dipandang di malam hari. Akan tetapi dengan 50 titik semburan nyala api di dalam area lingkaran pagar sebaiknya pengunjung selalu berhati-hati terlebih jika membawa anak kecil.

Menjadi pengalaman tersendiri bagi bunda ketika menyaksikan eternal flame di Pamekasan, yang menyala sepanjang siang dan malam, meski diguyur hujan, angin dan badai, api abadi ini tak akan pernah kunjung padam. Setengah merayu (setengah mengancam) ia pun berbisik, “Wahai ayah, api (cinta)mu jangan pernah kunjung padam, ya!” 😛

This slideshow requires JavaScript.

Ekspedisi Lintas Madura menetaskan begitu banyak pengalaman. Mulai dari mengenal proses pegaraman, menyaksikan  pertunjukan prestigious Karapan Sapi, hingga Api Abadi yang amat langka ditemukan. Bahkan Dragon Boy sempat menyamar menjadi Juragan Karapan dari Madura ‘tak iye 😆  Jika tidak didasari oleh rasa keingintahuan, tak mungkin sejauh ini warga bunda ‘kelayapan’ ke Salty Island 😎 Dengan demikian Sop Kaldu Super (Sumsum) Al-Ghozali pun secara sukses menutup perjalanan spontan di Madura kali ini. Ya, siapa sangka Madura menyimpan begitu banyak pesona..

Mator sakalangkong.

583 total views, 1 views today

Share my adventure Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedIn

Leave a Reply