Mulih Ka Desa Restoran & Bungalow, Garut

Mulih ka Desa artinya Pulang ke Desa.
Tajuk “kembali ke dusun” kini  semakin populer terutama bagi kaum urban metropolitan yang membutuhkan wisata bernuansa bumi pedesaan untuk ‘kalibrasi mata & jiwa’. Tempat semacam ini juga dapat membawa wisatawan kembali ke kenangan masa laloe djaman dahoeloe, termasuk bunda yang selalu intrigue dengan segala hal tentang baheula –maklumlah jiwana rada rikipligue. 😯
Pertama kali bunda menjelajahi kawasan ini ketika mengemban tugas negara di sebuah perusahaan energi panas bumi (geothermal) yang berada di Kabupaten Garut. Dan selepas masa dinasnya sebagai “toekangjoealbit” –istilah tersebut hanya dimengerti oleh kalangan ekslusif di instansi perminyakan 😎 ;bunda sang ‘Travel Engineer’ segera bereksplorasi menuju lokasi nan indah permai untuk meng-kalibrasi ‘kacamata’nya.

Cerita kembali pada seabad eh sewindu yang lalu ketika Jl. Samarang masih rusak dan berbatu, meskipun demikian, sedang ‘naik daun’ oleh keberadaan 4 star resort Kampoeng Sampireun yang turut mengangkat nama wilayah ini –dimana kala itu sohor bagi honeymooners untuk melaksanakan kepentingan malam pertama di tempat ini.

Kedatangan bunda tidak untuk berbulan madu, melainkan kepentingan mengisi tembolok a.k.a perutlah yang memaksanya untuk bergegas ke restoran Seruling Bambu di Kampoeng Sampireun. Tapi sayang, sewaktu ia tiba danaunya sedang dikuras sebagai langkah perawatan. Bunda mendapati danau buatan yang menjadi daya tarik utama resort ini dalam keadaan endapan lumpur, dan pemandangan menjadi sama sekali tidak menarik dengan penampakan ikan menggelepar tercampak dari habitatnya. Cerita ngalor-ngidul yang sedikit offside dari judul sebenarnya hanya ingin memberikan Tips: jika anda hendak honeymoon di Kampoeng Sampireun, tanyakeun terlebih dahulu kapan jadwal danau dikuras, daripada acara ‘romantic dinner on the lake’-nya gagal dan dimusuhi oleh pasangan!

Mulih Ka Desa Restaurant & Bungalow berada di jalan yang sama dan berjarak sangat dekat dengan Kampoeng Sampireun, menjadi sasaran lambung bunda yang sudah berteriak minta tolong. Disana ia disambut dengan suasana yang sungguh ‘ndeso‘. Pemandangan berupa deretan saung bambu di atas balong (kolam ikan), sungai kecil, serta hamparan sawah hijau, dibalut dalam iklim yang sejuk, sepi dan nyaman –jauh dari kegalauan ‘mainstream’ yang ada di ibukota. Segera bunda mengambil tempat di salah satu saung, lantas menghabiskan suguhan *wilujeng sumping* yaitu singkong goreng yang disajikan diatas piring dan gelas kaleng jadoel.

Judul masakan yang dipesan *nyunda* pisan; Pencok Leunca, Kerecek Genjer, Gurame Cobek, Pais Peda Beureum, Pais Impun, Udang Rarong, Tutut Bumbu Kuning, Bakakak Hayam, Ayam Ungkeb Benguh, Sayur Lompong, Tumis Kadedemes, Rujak Hiris, Suuk Rebus, Bala-Bala, Peuteuy, Jengkol, Lalaban dan sambal is a must! Minumannya Bandrek Haneut ‘Mulih ka Desa’ dan Kopi Tubruk Garutan. Ngarana ‘kalibrasi lambung’ iyeu mah 🙄

Tempat yang mengusung taglinemakan & tidur di sawah” menggarap kawasan ini se-ndeso mungkin, salah satunya dengan membuat pancuran atau kucuran air dari bambu yang akan mengeluarkan suara ketukan bila dialiri air, hasilnya berupa bunyi khas yang dapat ditemui di pedesaan serta menimbulkan efek kantuk. Bunda beristirahat melepas penat dan nyaris pulas diatas lesehan –andaikan saja suara si boss tidak melengking nyaring di speaker mobile-phone memerintahkan bunda untuk lekas kembali ke ‘kehidupan nyata’ serta menyerahkan laporan kerja yang sudah terkena noda sambal cobek bonus tulang ikan. 😛

Kenangan makan di sawah membuat bunda kembali datang ke tempat ini, meski kini ia sudah tidak berstatus pegawai (#tukangminyak) lagi.

Mulih Ka Desa yang berlokasi di Jl. Raya Samarang KM 35, Kamojang, Kec. Samarang sekarang sudah dapat ditempuh dengan mulus dan lancar. Restoran ini masih menyuguhkan hidangan tradisional Sunda dengan harga ringan dan rasa yang –surprisingly– lazat diatas piring dan gelas yang sudah tidak jadoel lagi. Judul masakan di buku menu pun sudah diterjemahkan ke dalam bahasa negara (menu dapat dilihat pada foto yang sedang lewat) ➡

Selain restoran juga terdapat penginapan bungalow kayu dengan dinding dari bilik bambu, atap rumbia, dan lantai papan, demikian dibangun agar dapat membangun suasana lekat dengan alam. Menuju ke bungalow pun mesti melalui pematang sawah yang mana pohon padinya mulai meninggi. Mungkin satu-satunya yang tidak ndeso adalah tempat tidur yang beralaskan springbed, dan oya, kamar mandi yang tidak perlu menimba dari sumur. 😉

Bungalow yang ada disini disebut ‘Gubuk’. Harga nett/malam Gubuk Cikuray dengan view sawah Rp. 350k weekday dan weekend Rp. 455k, sementara untuk gubuk yang lebih besar Gubuk Papandayan sejumlah Rp. 575k weekday dan weekend Rp. 695k. Harga tersebut cukup murah dibandingkan dengan resort berkonsep serupa, serta sudah termasuk sarapan pagi (2 orang), snack malam ala Mulih ka Desa, dan tiket masuk kolam renang di Tirtagangga Hotel Cipanas Garut.

Petuah KoperBunda:

  • Ajak emak dan abah untuk nostalgia; yang mempunyai kisah bermain kejar-kejaran di pematang sawah serta mandi di pancuran bambu sebagai bagian dari masa kecilnya.
  • Jangan datang bila anda terlalu lapar karena service atau pelayanannya agak lama walau sudah dipanggil pakai pentungan ala ronda! Ayah sampai harus ikut nge-ronda eh datang sendiri langsung ke dapurnya hanya untuk menambah nasi.
  • Tentunya akan menjadi hiburan dan pengalaman tersendiri bagi anak kota yang tidak mempunyai kenangan tinggal di desa. Disini mereka disibukkan dengan kegiatan menanam padi, menangkap ikan, memandikan kerbau, maupun Outbond ala ndeso yang difasilitasi oleh hotel ini.
  • Akomodasi di Garut pada umumnya mengusung tema cottage/bungalow di atas balong serta dilengkapi dengan kolam pemandian air panas alami. Namun bila anda mencari penginapan ekslusif yang #kekinian, luxury private villa satu-satunya di Garut ini dapat menjadi pilhan. Silahkan book Sibentang Private Villa yang dapat anda saksikan penampakannya di sini.
  • Villa D’Roemah Hampor di Tarogong Kidul Garut, adalah alternatif akomodasi lainnya dengan konsep rumah Jawa tempo doeloe dilengkapi interior vintage & antique –cocok bagi penganut faham ‘jadulisme’ 😆
  • Silahkeun simak acara tour de Garut legiun bunda diawali dengan berakit-rakit ria mengunjungi situs Candi Cangkuang, sarapan numpak perahu di Kamojang Green Hotel & Resort, napak tilas Kawah Kamojang, kuliner nasi liwet di RM Pak Asep Stroberi, serunya petualangan #Epic!Adventure laskar bolang di Gunung Papandayan, diakhiri dengan mencicipi coklat #AntiGalau di Chocodot Boutique Store 😀

This slideshow requires JavaScript.

6,176 total views, 6 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *