Ocean Queen Resort, Pelabuhan Ratu

Berawal dari keinginan ayah untuk touring bersama genk motornya dalam rangka kunjungan sosial di Sawarna, jadilah di hari ini bunda sekeluarga mengendarai mobil menuju Pelabuhan Ratu. Lokh, kok naik mobil? Bukannya ayah mau touring?

Seperti biasa di malam sebelumnya saya melihat bunda menyarankan ayah, “Daripada melakukan touring yang membahayakan jiwa, lebih baik ayah mengajak seluruh keluarga ikut jalan-jalan bersama khan?”. Kalimat ini lebih tepatnya sebagai ultimatum daripada saran. Rencana ayah touring bersama teman-temannya pun sirna dalam sekejap.

Perjalanan dari Jakarta menuju Pelabuhan Ratu memakan waktu sekitar 6 sampai 7 jam, tergantung parahnya tingkat kemacetan di Ciawi dan Pasar Cibadak. Tambahan waktu 1 jam lagi bila ingin lanjut ke Sawarna.

Karena faktor kenyamanan anak diutamakan, ayah memutuskan untuk menginap di Pelabuhan Ratu. Di kota pelabuhan ini terdapat banyak pilihan hotel atau penginapan yang lebih memadai untuk keluarga bunda daripada di Sawarna. Ocean Queen Resort menjadi rumah keluarga selama 3 hari.

Bungalow dengan 3 kamar menjadi pilihan, karena bunda mengajak teteh, om, tante, pakde, bude, uwak, abah, aki dan nini menginap bersama. “Kapan lagi bisa liburan keluarga seperti ini?”, kerling bunda. “Ayo, lekas turunkan kopernya!”, perintah bunda kepada pasukannya. Ahh akhirnya, perintah itu yang saya tunggu. Sudah letih badan saya ditindih oleh barang bawaan berat lainnya melalui jalanan yang nyaris mulus selama 7 jam!

Walau tampak jadoel dan oesang, resort ini sendiri cukup bersih dan luas. Bungalow besar letaknya persis di pinggir pantai menghadap lautan, terdiri dari 3 dan 4 kamar, berbentuk bangunan tradisional dengan dinding terbuat dari bambu. Terdapat juga bangunan baru berupa standard room yang suitable untuk keluarga kecil. Kelebihan resort ini adalah lokasi yang mudah dijangkau, memiliki pantai pribadi, fasilitas karaoke, kolam renang dan jacuzzi. Daftar menu dari cafe/restoran dan rasa makanannya yang super yummy bisa disetarakan dengan restoran mewah di ibukota.

Tapi tentu saja, keluarga ini tidak perlu memesan makanan dari dapur hotel karena mereka memiliki the best chef in the world! Siapa lagi kalau bukan bundanya si bunda atau biasa dipanggil maknyak. Dengan aksi ala Maknyak-chef, dalam hitungan menit rendang daging, semur ayam, teri kacang, sambal dan salad mentimun terhidang di meja makan.

Berita baiknya lagi, di setiap bungalow tersedia dapur yang lengkap dengan amenities yang boleh digunakan. Komplit dengan kompor, kulkas, rice cooker, piring, gelas, sendok, panci, kuali dan sodetnya. Bahkan sabun cuci piring dan sponge-nya juga disediakan. Aqua galon bila habis bisa minta re-fill hanya dengan membayar Rp 15.000. Tidak bawa beras? Tidak masalah, beli saja di Indomaret yang letaknya tak jauh dari resort ini.

Yang juga membedakan resort ini dari yang lain adalah masing-masing bungalow dilengkapi dengan area BBQ grill. Pagi hari kita bisa memanggil room-boy dan memberikan daftar protein laut apa saja yang ingin disantap, dan dia akan membelikannya langsung dari pelelangan ikan di Pelabuhan Ratu. Siapkan fee sekitar Rp. 500k sampai Rp. 1.000k (tergantung seberapa kalap anda memesan), sudah termasuk tip. Malamnya dia kembali datang membawa hasil laut, mempersiapkan arang dan saus kecap, kemudian membakarnya untuk segera kita nikmati. Seafood barbeque fresh from the ocean!

Selepas bakar-bakaran ikan, keluarga ini berjalan menghampiri keramaian di pantai. Disana ada rombongan bule yang sedang asyik beer-chit-chat (baca: nge-bir sambil chit-chat) di depan api unggun. Yup, disini kita bisa membeli kayu untuk menyalakan api unggun di pantai.

Ada juga rombongan ABG yang membawa boombox ber-reggae ria. Anehnya kostum ABG ini mirip dengan kostum wajib bunda bila ke pantai: sackdress tipis panjang menjuntai-juntai dan rambut disanggul cepol. Merasa sudah kompak (kostumnya) rasa hati bunda ingin bergabung berjoget bersama, tapi oh wahai bunda ingatlah.. anakmu sudah tiga!

Bunda datang lagi membawa secangkir kopi hangat untuk ayah yang sedang menyiapkan petasan di pasir pantai, sementara pasukan cilik bunda duduk santai di dalam hut/pondok yang tersedia, menanti moment peluncuran petasan.

Malam pun semakin kelam. Warna-warni petasan menggantung di langit hitam. Dan saya, si koper, menyadari malam ini tidak akan dapat tidur dengan tentram..

Saran KoperBunda:

  • Pembayaran di resort ini hanya menerima cash only and room only without breakfast. Sehingga disarankan untuk membawa segepok uang kontan.
  • Bawa handuk dan toiletries sendiri, beserta Autan atau lotion anti nyamuk. Di musim panas banyak nyamuk bertandang, dan cicak-cicak di dinding diam-diam merayap.
  • Bawa perbekalan cemilan berupa minuman dan snack untuk dinikmati di teras depan bungalow, maupun di cabana/pondok tepi pantai, sambil asyik bersenda gurau bersama keluarga dan memandangi laut lepas Samudra Hindia. Namun ingat pesan bunda: buanglah sampah pada tempatnya!
  • Walau ombak terasa tenang tapi tidak disarankan untuk berenang karena sewaktu-waktu arus ombak di Laut Selatan bisa berubah ganas dan menjadi amat berbahaya.
  • Cobalah jasa pijat/massage di tepi pantai. Hanya dengan Rp 50k/jam, badan yang berteriak butuh pijatan menjadi amat relax kala dipijat diiringi suara merdu debur ombak, hembusan sejuk angin bertiup, dan penampakan laut biru di depan mata. Seperti testimonial seorang bule: “It’s lovely getting a massage on one of the huts that line the beach.” Atau seperti bunda -yang bukan bule apalagi pakle- mau dipijat namun malu buka-bukaan di pantai, akhirnya memilih buka-bukaan (baca: dipijat) di dalam kamar 🙂
  • Susuri juga kisah pasukan bunda saat tak sengaja menemukan hidden-beach di Pantai Langir, dan merasakan asyiknya berjalan-jalan sore di Dermaga Pelabuhan Ratu.

This slideshow requires JavaScript.

3,264 total views, 1 views today

Share my adventure Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedIn

Leave a Reply