Palembang: Benteng KutoBesak, Tugu Belido, Museum BalaputeraDewa, Kampung Kapitan, Jakabaring, Riverside (Sungai Musi) Resto, Ogan Komering Ilir

Liburan tahun baru bagi warga ibukota pada umumnya, jika tidak ke luar negeri, dihabiskan di kota wisata seperti Bali, Yogya dan Bandung. Bunda (yang phobia dengan kerumunan massa) berfikir keras hendak kemana mengajak pasukannya bermalam tahun baru. “Bagaimana kalau tahun baru di Sungai Musi?”, ayah menjawab via telepati¬†ūüėÜ

Ya, KoperBunda’s Crew menutup akhir tahun 2017 dengan santap malam di atas kapal tongkang yang sedang berlabuh di tepi Sungai Musi! Jembatan Ampera Warna Warni pun menjadi langkah awal Epic!Adventure Laskar KoperBunda di tahun 2018! ūüėé

Day 1. Jakarta – Palembang by Garuda, RM Sri Melayu, Benteng Kuto Besak, Iwak Belido (Tugu Ikan Belida), Nasi Minyak

Keberangkatan warga bunda menggunakan maskapai Garuda dari Bandara Soetta, hanya untuk menikmati Terminal 3 Ultimate semata ūüėģ Penerbangan dari Jakarta menuju Palembang pun hanya menempuh waktu satu jam saja. Setibanya di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, pasukan disambut dengan suasana penyambutan berupa puluhan venue¬†banner¬†Asian Games yang akan berlangsung pada 18 Agustus 2018 di Kota Pempek ini.

Hari pertama pendaratan di Palembang sudah dipenuhi dengan program penggemukan badan! Tiga buah koper masih nyungsep di dalam bagasi namun sudah dibawa ke RM Sri Melayu terlebih dahulu. “Memang biasanya tamu-tamu dari Jakarta, khususnya pejabat, dibawa makan kesini dulu”, kata rekan ayah yang #mendadakguide di kotanya. Bunda yang tersandjuang¬†‘merasa’ dianggap pejabat mendadak kembang-kempis cuping hidungnya..

Lelah perjalanan hilang seketika kala melangkah memasuki area restoran luas yang dipenuhi pepohonan rindang. Legiun bunda lantas memilih lesehan di atas kolam iwak/ikan. Hidangan khas di Sri Melayu adalah Pindang Patin. Menu andalannya adalah Pindang Ikan Patin, Pindang Belido, Pindang Baung, Pindang Salai, Pindang Udang, Pindang Tulang (Pindang iga sapi), dan Pindang Telur Ikan Gabus. Masakan pindang ini disajikan didalam tungku berapi kecil agar terasa nikmat ketika disantap panas. Begitu dibuka tutupnya, tercium semerbak harum berasal dari rempah kuah pindang dengan irisan nanas, cabai serta daun kemangi. Segar!

Selain itu terdapat ragam jenis masakan baik seafood, maupun protein daging ayam dan sapi. Melihat gambar masakan  pindang berkuah merah menyala (a.k.a serba pedas), bunda pun memesan Cumi Goreng Tepung dan Udang Mentega untuk pasukan mininya.

Yang menarik pada restoran yang terletak¬†di Jl. Demang Lebar Daun No. 1 Palembang¬†ini, adalah penyajiannya menyerupai restoran Padang. Berbagai jenis lauk, lalapan, sambal dan dessert puding srikaya pandan disajikan dalam piring kecil, begitu banyak variasinya hingga mendominasi seluruh meja. Diantaranya terdapat Ikan Seluang dari Sungai Musi (bentuknya mirip ikan teri yang digoreng kering, kriuk namun tidak asin), Bedug (bentuknya seperti bedug) berupa campuran daging ikan gabus dan pepaya muda, dan sambal hati udang (err memang udang punya hati??). Bunda yang selalu ingin mencoba makanan khas suatu daerah, memberanikan diri mencoba Pepes Pindang Tempoyak yang juga terdapat dalam varian side-dish tersebut (yakni pepes ikan yang dibalur durian fermentasi dan cabai serta dibungkus daun pisang). Rasanya? Yaa¬†begonolah.. antik sesuai judulnya¬†ūüėÜ Secara restoran ini langganan pejabat, bagaimana dengan harganya? Rupanya masih ramah di kantong, terutama karena dibayari oleh rekan ayah! ūüėÄ

Malam harinya, setelah 3 buah koper montok tersimpan aman di balik lemari Hotel Excelton, pasukan bunda mulai mengeksplorasi Kota Palembang. Tujuan utama tentu saja Benteng Kuto Besak yang merupakan bangunan keraton pada abad XVIII dan menjadi pusat Kesultanan Palembang. Diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I dan pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya yaitu Sultan Mahmud Bahauddin (masa pemerintahan 1776-1803). Benteng ini mulai dibangun pada tahun 1780 menggunakan batu kapur dari pedalaman Sungai Ogan ditambah dengan putih telur sebagai semen perekat. Keraton Kuto Besak ditempati secara resmi pada tanggal 21 Februari 1797, dan saat ini ditempati oleh Komando Daerah Militer (Kodam) Sriwijaya.

Posisi Benteng Kuto Besak (BKB) letaknya sangat strategis sekaligus indah, menghadap ke Sungai Musi. Di pelataran BKB ini pula telah berdiri Tugu Belido atau Tugu Ikan Belida sejak Oktober 2017 lalu. Ikon baru di kota pempek ini selalu ramai dikunjungi wisatawan yang mencari tempat hiburan terbuka (pasar malam) atau sekedar berfoto ria. Tugu berbentuk ikan belida sepanjang 9 meter dan setinggi 13 meter tampak elok kala disorot lampu yang berganti warna. Kabarnya dari mulut iwak belida raksasa ini dapat menyemburkan air sejauh 50 meter, mirip dengan Merlion di nagari seberang! Namun sayang atraksi ini tidak dijumpai oleh warga bunda meski sudah bersabar menanti seabad lamanya (lebaydotcom). Namun bunda sudah cukup puas berhasil melaksanakan #popotoan berlatarkan Jembatan Ampera yang menyala cantik di malam hari. Catat: pemotretan dilaksanakan ditengah hiruk pikuk massa jelang tahun baru, riuhnya suara terompet beradu dengan komedi putar, serta balon wajah Dora menutupi layar kamera..

Acara dilanjutkan dengan kuliner khas Palembang yakni Nasi Minyak. Nasi Minyak adalah adaptasi dari Nasi Kebuli Timur Tengah terhadap salero Wong Kito Galo. Pada¬†jaman-old, nasi minyak merupakan menu istimewa yang hanya disajikan kepada lingkungan keluarga Kesultanan Palembang Darussalam saja, namun jaman-now¬†nasi minyak sudah #merakyat ūüėȬ†Mengunyah hidangan nasi yang dimasak dengan bumbu rempah dan ‘bergalon’ minyak samin membuat¬†si bunda keblinger. Tetapi sate kerangnya.. amboi sedapnyoo.. bungkusss!!

This slideshow requires JavaScript.


Day 2. Museum Balaputra Dewa, Rumah Limas, Mpek-empek Lince, Kampung Kapitan, Stadion Jakabaring (Asian Games 2018), New Year Eve @Riverside Restaurant

Yup, laskar KoperBunda telah mendarat di Rumah Limas ūüėÄ Rumah tradisional iconic yang terpatri dalam uang Rp. 10.000 lama ini menjadi sasaran wajib wisatawan jika ke Palembang.

Mengapa? Sebab Rumah Limas merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Kerajaan Sriwijaya, dan dikenal sebagai rumah tradisional sejak jaman Kesultanan Palembang. Rumah panggung kayu ini merupakan warisan budaya masyarakat Sumatera Selatan. Dan rumah adat yang bertempat di dalam kawasan Museum Balaputera Dewa menjadi yang paling bersejarah dikarenakan usianya yang sudah mencapai 300 tahun!

Rumah Bari/Bahari¬†ini dibangun tahun 1836 oleh Pangeran Syarif Abdurahman Al Habsi, bertempat di daerah Sekanak sebelum akhirnya dipindahkan ke dalam lokasi Museum Balaputra Dewa.¬†Rumah Bari¬†disebut sebagai “Rumah Limas” karena bentuk atapnya yang menyerupai limas atau piramida terpenggal. Rumah Bari Palembang terkenal karena corak dan bentuk seni ukir didalamnya juga disertai dengan kemilau warna emas, serta penataan ruang yang mencerminkan tingginya tingkatan budaya suku bangsa yang memilikinya. Oleh karenanya kemegahan Rumah Limas turut melambangkan prestise pemiliknya.

Rumah tradisional yang pernah disambangi oleh Ratu Beatrix dan Pangeran Willem ini memiliki nilai budaya dan filosofi. Salah satunya bagian teras rumah biasanya dikelilingi pagar kayu berjeruji yang disebut tenggalung. Makna filosofis di balik pagar kayu tersebut adalah untuk menahan supaya anak perempuan tidak keluar dari rumah! Nah, berbeda sekali dengan filosofi bunda yang sedari kecil sudah diajarkan bertualang :mrgreen:

Bangunan Rumah Limas secara keseluruhan terbuat dari kayu. Kayu ulin digunakan sebagai pondasi rumah, yang jika semakin terendam air maka akan semakin kuat (perlu diketahui, rumah panggung ini kebanyakan terletak di pinggir sungai yang menjadi sarana transportasi utama masyarakat SumSel). Sementara untuk bagian rumah lainnya terbuat dari kayu meranti, trembesi, dan mahoni. Yang menarik dari rumah limas ini adalah, tidak menggunakan sebutir paku pun!!¬†ūüėģ

Museum Balaputera Dewa sendiri menyimpan berbagai koleksi dari zaman pra-sejarah, zaman Kerajaan Sriwijaya, zaman Kesultanan Palembang, hingga ke zaman kolonialisme Belanda. Berbagai koleksi tersebut dipamerkan di dalam tiga ruang pamer utama. Pengunjung dapat menyaksikan koleksi arca di selasar museum yang berasal dari zaman megalith! Kebudayaan megalit atau batu besar ditemukan di wilayah dataran tinggi Pagaralam Kab. Lahat, dalam rangkaian Pegunungan Bukit Barisan di sisi sebelah barat Sumatera Selatan.

Museum ini turut menampilkan benda peninggalan dari zaman pra-kerajaan Sriwijaya berupa kerajinan tembikar, manik-manik, dan pengecoran logam, serta berbagai replika prasasti yang menjelaskan awal mula berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Lantas pengunjung akan di bawa menelusuri zaman Kesultanan Palembang. Benda-benda peninggalan zaman ini berupa alat tenun songket, dan salah satu koleksi kebanggaan museum ini adalah kain songket dengan motif klasik Naga Besaung yang memiliki panjang 6 meter!

Museum Balaputera Dewa yang beralamat di¬†Jl. Srijaya Negara I No. 288 Palembang ini dibuka setiap hari (kecuali Senin) mulai pukul 08.30 WIB hingga 15.00 WIB. Nama museum¬†Balaputeradewa diambil dari nama Raja Sriwijaya yang merupakan keturunan dinasti Syailendra. Dibawah kepemimpinannya, Sriwijaya menjadi kerajaan yang sangat berjaya, menguasai jalur perdagangan dan menjadi¬†kerajaan maritim terbesar di seluruh Asia Tenggara pada abad ke-7 M! Dan kini,¬†dengan hanya membayar Rp. 2ribu dewasa dan seribu rupiah untuk anak, anda dapat menyelami kekayaan sejarah BUMI SRIWIJAYA¬†ūüôā

Pembangunan jalur LRT pun tampak ‘ngebut’ diselesaikan, dari bandara menuju pusat kota hingga ke Gelora Sriwijaya yang juga disebut Stadion Jakabaring.

Petuah KoperBunda:

  • Segera datang ke Rumah Limas mumpung uang Rp. 10ribu masih berlaku.
  • Pempek Lince is the best in Palembang!
  • Belajar sejarah lama di Kapitan.
  • Paling wajib menjelang Asian Games adalah popotoan di Stadion Jakabaring

This slideshow requires JavaScript.


Day 3. Ogan Komering Ilir (OKI)

Kedatangan pasukan KoperBunda ke Palembang sebenarnya guna memenuhi undangan seorang rekan kerja ayah yang memiliki kebun durian di kampung halamannya. Ajakan ‘makan duren sepuasnya’ tak mampu ditolak ayah yang memang fanatik dengan manisnya buah berkulit tajam ini¬†ūüėõ

Laskar bunda semangat ‘berburu duren’, meski harus menempuh 2 jam berkendara dari kota Palembang untuk tiba di OKI (Ogan Komering Ilir). Sekilas info,¬†Kabupaten Ogan Komering Ilir memiliki garis pantai terpanjang di wilayah Provinsi Sumatera Selatan membentang hingga ke perbatasan Provinsi Lampung.¬†Jalur laut sepanjang garis pantai ini sudah terkenal sedari dulu, para pelaut Portugis di abad 16-17 melalui sepanjang pantai OKI yang berlumpur untuk menghindari karang di sepanjang pantai Bangka.

Berbagai tinggalan artefak serta permukiman penduduk sejak era Kerajaan Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang Darussalam dapat dijumpai jejaknya sampai saat ini. Tak heran masih terdapat banyak rumah panggung kayu usia ratusan tahun berdiri kokoh di wilayah daratan OKI dan lahan basah (mangrove, rawa dan gambut). Sepanjang perjalanan bunda dihibur oleh pemandangan alami serta rumah pangung khas Sumatera Selatan yang sudah jarang dijumpai di kota besar. Disini sang bunda menyaksikan, tepat disisi jalan, rumah penduduk dibangun di atas perairan, pulang ke rumah dengan moda transportasi sampan..

Panen Duren, judulnya.

Jalan-jalan warga bunda bukan jalan-jalan biasa.

Terima kasih kepada keluarga besar Galiano.

This slideshow requires JavaScript.

650 total views, 8 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *