Paralayang Gunung Banyak & Omah Kayu, Batu

Pada hari pertama pendaratan di Batu, adrenaline-junkie-mini serempak berteriak kepada or-tu-nya agar mendatangi wisata udara Paralayang (istilah londonya: Paragliding) di kawasan Gunung Banyak, Kota Batu. Mereka tak sabar ingin segera mengepakkan sayap eh mengembangkan parasut di pegunungan Jawa Timur –terlebih lagi laskar kanak-kanak ini sudah memiliki pengalaman dengan kerap melaksanakan olahraga terbang bebas di Bukit Paralayang Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Bunda tidak memahami mengapa aktivitas paralayang disebut sebagai olahraga, baginya hanya satu dampak dari kegiatan yang ‘semata-mata’ bergantung pada hembusan angin mamiri ini: olahraga jantung!

Bunda sendiri pernah (sekali dalam seumur hidup) mengarungi angkasa dibawah naungan parasut demi menjawab tantangan ayah, namun langsung kapok seketika. Ia tidak bisa menikmati aktifitas ketinggian (high altitude) yang hanya akan membuat kepalanya pusing tudjuh keliling dan djantung terkedjut!

Peristiwa kedjut-kedjutan ini sudah timbul sejak mendaftar olahraga ekstrim di Posko Paralayang yang me-WAJIB-kan peserta untuk tanda tangan “kontrak”. Hal ini membuat perasaan bunda ‘uneasy‘. Apalagi ketika ia harus (mewakili) menandatangani diatas nama anak-anaknya!

Di Posko Pendaftaran Paralayang, laskar bunda memilih Paket A berupa Basic Tandem Flight Service seharga Rp. 350k/orang sekali terbang. Mereka akan terbang tandem (berdua) didampingi oleh instruktur paralayang profesional dan bersertifikat. Selain itu terdapat Paket Medium (Rp. 400k), Advance (Rp. 450k), dan Premium (Rp. 500k). Yang membedakan antara paket basic dan paket lainnya adalah fasilitas pick-up service dan welcome drink/snack. Bunda lebih rela membayar paket basic, sebab penampakan warung Bakso Paralayang tampak lebih mengenyangkan daripada suguhan snack! 😉

Paralayang Gunung Banyak yang berlokasi di sebelah barat Kota Batu Jawa Timur ini diresmikan oleh Marsenal TNI Hanafie Asnan (saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Federasi Aero Sport Indonesia), pada tanggal 20 Juni 2000 bertepatan dengan PON XV Jawa Timur. Sehingga kawasan Gunung Banyak yang dahulu sepi, kian semarak sejak dijadikan sebagai “Take-off Area” bagi para atlit paralayang maupun adrenaline seekers.

Saat ini si Ujang tengah dikerubuti oleh petugas yang sibuk memasang alat-alat pelindung (safety gear) pada tubuh kecilnya. Ngilu rasa hati bunda menyaksikannya. Mang Ujang pun harus memikul ransel yang ukurannya hampir sama dengan dirinya dan sudah diberi pemberat berupa parasut cadangan (maklum berat badan si Bolang ini masih dibawah ½ kwintal!).

Sambil menanti panggilan angin, ia diberikan briefing. Sambil menunggu komando, ia bersiap di tepi jurang!

Bendera angin berteriak OK and there he goes! Lepas landas dari ketinggian 1350 m dpl, si Bolang merasakan sensasi terbang bagaikan (anak) elang menembus awan, bonus pemandangan landscape yang sungguh menawan antara Kota Batu dan Gunung Panderman. Tak heran bila Wana Wisata Dirgantara Gunung Banyak dianggap sebagai the best mountain-base paragliding site in Indonesia!

Dalam terpaan angin kencang, hembusan udara dingin, serta suara angin mendesing bising di kuping, para petualang cilik (malah) merasa relax & enjoy. Mereka asyik menikmati pemandangan barisan pegunungan, lembah dan bukit hijau, juga petak tanah pertanian yang tertata rapi –seraya duduk santai, di ransel yang ‘disulap’ menjadi tempat duduk penerbang (seat harness).

Beraksi di udara pada elevasi sekitar 400 m, laskar mini melayang semakin menjauh, tampak imut di kejauhan. Hingga akhirnya mendarat di “Landing Area” Desa Songgokerto, tepatnya ditengah ladang pertanian yang berjarak sekitar 2 km dari take-off point. Sejumlah petugas datang membantu as soon as their lil’ feet touch the ground. Helm serta perlengkapan lainnya turut dikembalikan kepada petugas yang tugasnya juga membenahi parasut. Mini army pun disambut barisan ojek yang sudah siap menggiring pasukan kembali ke kandang eh posko paralayang Gunung Banyak.

Tak hanya bagi pecinta paralayang, Gunung Banyak juga merupakan tempat tujuan wisata yang menyuguhkan pesona alam pegunungan. Pengunjung yang datang akan segera melaksanakan ritual selfie, begitu jua pecinta fotografi akan gemar membidik warna-warni parasut yang kontras dengan warna langit.

Masih di area Gunung Banyak (seraya menunggu Neng dan Mang Ujang kembali terbang di medan juang; begitu jua Maknyak dan Babeh yang asyik berdua-duaan di warung bakso), bunda beserta ayah dan si bungsu berjalan kaki mendatangi Omah Kayu yang sedang ‘happening‘ di situs sosmed yang dianutnya.

Perhutani mendirikan Omah Kayu pada bulan Februari 2014 sebagai wisata alternatif di Kota Batu. Rumah atau villa-villa kayu ini dibangun di ketinggian 1315 m dpl, di atas pohon-pohon pinus besar nan tinggi menjulang. Seluruh villa menghadap ke tenggara, sehingga pengunjung disuguhi pemandangan berupa suasana Kota Batu hingga puncak Gunung Panderman. Pemandangan tersebut cukup fantastis terutama di malam hari. Kelap-kelip lampu kota terlihat bagai kilauan batu mulia, bersama dengan semburat cahaya rembulan menembus pepohonan rindang -terasa syahdu- apalagi bila datang tepat disaat bulan purnama (selama tidak ada lolongan serigala, tentunya..).

Saat ini Omah Kayu memiliki jumlah villa yang masih terbatas yakni sebanyak 6 unit, masing-masing berkapasitas 2 orang atau maksimal 3 orang saja. Untuk mencapainya, pengunjung harus meniti sebilah kayu yang terbukti cukup menantang dilalui. Ruangan berukuran sekitar 3 m x 2 m ini seluruhnya terbuat dari kayu yang ‘menempel’ pada batang pohon hidup, dilengkapi balkon serta bangku kayu agar pengunjung dapat duduk damai mengagumi indahnya alam yang terbentang di depan mata. Di dalam kamar telah disediakan satu kasur kecil, 2 bantal, sebuah selimut, peralatan makan dan perlengkapan mandi (fyi, keberadaan kamar mandi terpisah dari villa). Soket listrik pun tersedia tetapi amat tidak disarankan untuk menyalakan alat elektronik dan ponsel di saat datang hujan.

Walau cukup memikat, bunda masih harus berpikir 10x sebelum memutuskan bahwa Omah Kayu ‘appropriate’ untuk keluarga dengan anak kecil. Maka tak masalah bila tak menginap, keluarga antik ini tetap dapat bersantai menikmati suasana Omah Kayu dengan hanya membayar 5 ribu Rupiah saja!

Petuah KoperBunda:

  • Jalur dari Kota Batu menuju lokasi Paralayang Gunung Banyak berjarak sekitar 5 km (15 menit), cukup dekat dan mudah ditemukan. Terdapat (plang) petunjuk jalan walau sebaiknya anda tetap terhubung dengan mBah Waze atau Googlemap. Anda masih harus melalui kondisi jalan tanah yang menanjak dan berliku pada 500 m terakhir. Banyak pengunjung yang datang dengan menyewa ojek atau kendaraan yang sudah menggunakan ban anti selip!
  • Tidak dipungut biaya untuk memasuki kawasan Gunung Banyak ini. Kecuali ketika anda hendak berkunjung ke Omah Kayu akan dikenakan biaya retribusi sebesar Rp. 5 ribu/orang. Sementara untuk mencoba wisata dirgantara, anda harus mendaftar serta membayar paket terbang di Posko Paralayang setempat.
  • Gunakan sepatu kets, pakaian hangat serta jaket untuk menepis terpaan angin dingin kala mengudara di angkasa.
  • Untuk terbang secara tandem anda tidak harus mengikuti pelatihan apapun. Siapapun dapat mengikuti kegiatan ini selama dinyatakan sehat jasmani rohani, tidak memiliki riwayat penyakit jantung, tidak takut (fobia) ketinggian, dan tidak fobia mengeluarkan uang demi sebuah pengalaman.
  • Batas usia ideal adalah 14 – 60 tahun (dibawah 18 tahun harus mengantongi ijin orangtua); namun demikian banyak dijumpai anak kecil bernyali besar turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Berat badan yang disarankan antara 40 – 90 kg, bila lebih dari itu harus terbang dengan menggunakan parasut khusus karena parasut standar tidak bisa menahan berat diatas 90 kg.
  • So far olahraga ekstrim ini terbukti aman bagi keluarga bunda, mungkin dibantu dengan doa bunda (mulutnya komat-kamit hingga berbusa) selama pasukan mungilnya beraksi di udara. Anda pun tidak perlu merasa ‘parno’ atau terlalu khawatir seperti si bunda, karena dalam cabang olahraga ini keselamatan adalah hal paling utama yang harus senantiasa diperhatikan. Jika peserta menuruti prosedur dan tata cara yang benar maka resiko akan sangat minimal (begitu kata Om Pilot).
  • Selain itu anda dapat merasa lega karena semua pilot telah memiliki sertifikasi Tandem Master yang dikeluarkan oleh otoritas paralayang di Indonesia (PLGI – Persatuan Layang Gantung Indonesia) dan diakui oleh badan olahraga udara internasional. Sang Tandem Master akan mengutamakan kenyamanan dan keinginan klien: terbang nyaman untuk menikmati sunset, atau sedikit radikal bagi yang membutuhkan adrenalin tambahan, berupa manuver-manuver spiral atau wing over. Artinya, anda bisa request jungkir-balik in the sky :mrgreen:
  • Be your own pilot. Terbanglah secara solo. Untuk itu anda harus mengikuti serangkaian pelatihan untuk mengendalikan paralayang dan menjadikan anda sebagai pilot paralayang profesional. Anda dapat menghubungi Paragliding Club di Kota Batu yang dapat memberikan jasa layanan kursus paralayang. Biaya uang sekolahnya sekitar Rp. 6 – 7 juta (full package) termasuk 40x solo flying in 2 different sites. Sayangnya, ayah masih menanti keikhlasan bunda untuk diijinkan menekuni pelatihan ini.
  • Foto-foto is a must! Gunakan tongsis atau video-selfie untuk merekam raut wajah anda selama di udara! Go-Pro juga dapat dipakai untuk mengabadikan corak bumi dari sudut pandang mata elang.
  • For once in a lifetime cobalah sesuatu lain dari yang lain yakni paralayang di malam hari. Dengan memesan Paket Night Safari seharga Rp. 600k/orang, anda memperoleh sensasi tandem under the moon. Jika anda seorang wanita single mengikuti paket ini, hukumnya wajib memilih tandem master yang hensom, nah! 😉
  • Bila anda penganut faham romantisistisme terjangkit virus narsisistisme serta pemuja naturalisistisme, alangkah baiknya jika anda mencoba sensasi bermalam di rumah kayu yang menggantung di pohon pinus di kawasan Gunung Banyak, Batu.
  • Biaya menginap di Omah Kayu “Not Just Tree House ini berkisar antara Rp. 250k (weekday) hingga Rp. 450k (weekend) villa/malam. Harga tersebut sudah termasuk breakfast serta mandi pancuran air hangat yang akan terasa amat luxurious dinikmati di tengah hutan!
  • Apabila anda menginap di Omah Kayu, baiknya relakan bila pengunjung ber-selfie ria di atas rumah kayu anda, bahkan mengintip ke dalam kamar anda..
  • Sebagai info, setiap tamu yang menginap akan mendapat 2 bibit pohon yang wajib ditanam untuk menjaga kelestarian alam. Pengunjung boleh memberi nama pohon tersebut, dan hmm.. si pohon akan saya beri nama *KoperBundaKeceBadai* 😆
  • Hari ini sudah yang ke-3 kalinya Mang Oejang membentangkan parasut di atas pegunungan Kota Batu. Bila diakumulasikan dengan jumlah jam terbangnya di Puncak Bogor, sebentar lagi ia dapat mendaftar sebagai instruktur termuda paralayang Indonesia 😀 *cihuy*

Currently bunda mengajukan pensiun dini dari kegiatan paralayang; hingga suatu hari nanti akang mas Brad Pitt membujuknya terbang tandem sepayung eh separasut berdua *ehm*. Jangan lupa baca pengalaman darmawisata armada bunda di Jatim Park 2, melatih gaya dan mimik ekspresif di Batu Night Spectacular, serta bercengkrama di kehangatan villa Jambuluwuk Batu Resort.

This slideshow requires JavaScript.

3,828 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *